BUPRENORFIN

Indikasi: 

terapi pengganti untuk ketergantungan opioid, dalam kerangka terapi psikologi, sosial dan medis.

Peringatan: 

hentikan penggunaan jika terjadi nekrosis hati dan hepatitis dengan jaundice; dapat menyebabkan gejala putus obat jika diberikan kurang dari 4 jam setelah waktu penggunaan opioid yang terakhir; tidak direkomendasikan pada saat kehamilan.

Interaksi: 

alkohol dan obat depresan SSP dapat meningkatkan efek sedatif buprenorfin; kombinasi dengan benzodiazepin dapat meningkatkan efek menekan pernafasan yang berisiko pada kematian. MAOI meningkatkan efek opioid dari buprenorfin.

Kontraindikasi: 

hipersensitif pada buprenorfin atau komponen produk, anak usia di bawah 16 tahun, insufisiensi pernafasan berat, insufisiensi hati berat, delirium atau alkoholism akut, menyusui.

Efek Samping: 

konstipasi, sakit kepala, insomnia, astenia, mengantuk, mual dan muntah, pusing dan tidak sadarkan diri, berkeringat; depresi pernafasan, nekrosis hati, halusinasi.

Dosis: 

Awal, 0,8-4 mg sebagai dosis tunggal. Untuk pasien yang tidak mengalami gejala putus obat, satu dosis diberikan sublingual minimal 4 jam setelah penggunaan terakhir opioid atau pada saat pertama kali muncul gejala putus obat. Untuk pasien yang menerima metadon, sebelum memulai buprenorfin, dosis metadon sebaiknya dikurangi hingga maksimum 30 mg/hari. Buprenorfin dapat menyebabkan gejala putus obat pada pasien mengalami ketergantungan pada metadon. Dosis dapat ditingkatkan sesuai respon, maksimal 32 mg sebagai dosis tunggal per hari. Setelah dicapai hasil stabil, dosis dapat dikurangi secara bertahap dan kemudian dapat dihentikan.

List Nama Dagang

Untuk informasi nama produk terkini dapat melihat cekbpom.pom.go.id