5.4.1.2 Penghambat Protease

Peringatan: Penghambat protease menyebabkan hiperglikemia dan sebaiknya digunakan dengan hati-hati pada penderita diabetes mellitus (lihat keterangan sindroma lipodistrofi). Perhatian juga sebaiknya diberikan pada pasien hemofilia yang memiliki risiko tinggi terjadinya perdarahan. Penghambat protease sebaiknya digunakan dengan hati-hati pada pasien dengan gangguan hati. Risiko efek samping pada hati meningkat pada pasien hepatitis B atau C. Atazanavir dapat digunakan dengan dosis lazim pada pasien dengan gangguan ginjal. Namun, penghambat protease lainnya sebaiknya digunakan secara hati-hati pada pasien dengan gangguan ginjal. Penggunaan pada kehamilan juga sebaiknya hati-hati (lampiran 4).

Efek samping: Penghambat protease menyebabkan gangguan saluran cerna (termasuk diare, mual, muntah, nyeri lambung, flatulen), anoreksia, disfungsi hati, pankreatitis, gangguan darah termasuk anemia, neutropenia dan trombositopenia. Juga menyebabkan gangguan tidur, kelelahan, sakit kepala, pusing, paraestesia, mialgia, miositis, rabdomiolisis, gangguan pengecapan, ruam, pruritus, sindrom Stevens-Johnson, reaksi hipersensitivitas termasuk anafilaksis (lihat keterangan di atas tentang efek metabolik dan lipodistrofi).

Monografi: 

ATAZANAVIR

Indikasi: 

dalam kombinasi dengan obat antiretrovirus untuk pengobatan infeksi HIV.

Peringatan: 

lihat keterangan di atas; juga pemberian bersama dengan obat yang dapat memperpanjang interval PR; kelainan konduksi jantung.

Interaksi: 

lihat lampiran 1 (Atazanavir).

Kontraindikasi: 

menyusui (Lampiran 4); hipersensitivitas terhadap atazanavir; pemberian bersama dengan midazolam, triazolam, dihidroergotamin, ergotamin, ergonovin, metilergonovin, cisaprid, pimozid.

Efek Samping: 

lihat keterangan di atas; juga sariawan, jaundice, hepatosplenomegali, hipertensi, udem, palpitasi, syncope, nyeri dada, dispnoea, gejala neurologi perifer, mimpi yang tidak normal, amnesia, depresi, ansietas, ginekomastia, perubahan berat badan, peningkatan nafsu makan, nephrolithiasis, beser, haematuria, proteinuria, artralgia, alopesia.

Dosis: 

Pasien baru (yang belum pernah diobati): 400 mg sekali sehari bersama dengan makanan.Untuk pasien yang sudah pernah diobati: 300 mg sekali sehari ditambah ritonavir 100 mg sekali sehari.

BOSEPREVIR

Indikasi: 

infeksi hepatitis C kronik (CHC) genotipe 1, dikombinasikan dengan peginterferon alfa dan ribavirin, untuk pasien dewasa (18 tahun lebih), dengan penyakit hati lanjut yang belum diobati atau yang telah gagal pada pengobatan sebelumnya.

Peringatan: 

anemia, pemantauan darah lengkap dilakukan sebelum memulai pengobatan, dan pada minggu ke-4 serta ke-8 sesudah pengobatan, atau sesuai keadaan klinis pasien.

Interaksi: 

ketokonazol atau antijamur azol (itrakonazol, posakonazol, vorikonazol), efavirenz, drospirenon/etinil estradiol, takrolimus, siklosporin, atorvastatin, metadon.

Kontraindikasi: 

hipersensitivitas, hepatitis autoimun, dekompensasi hati, wanita hamil atau pria yang memiliki pasangan yang sedang hamil, penggunaan bersama dengan obat-obatan seperti midazolam, triazolam, amiodaron, astemizol, bepridil, pimozid, propafenon, kuinidin, lumefantrin, halofantrin, simvastatin, lovastatin, penghambat tirosin kinase dan turunan ergot (dihidroergotamin, ergonovin, ergotamin, metilergonovin).

Efek Samping: 

sangat umum: anemia, neutropenia, nafsu makan menurun, cemas, depresi, insomnia, mudah marah, pusing, sakit kepala, batuk, dispnea, diare, mulut kering, disgeusia, mual, muntah, alopesia, kulit kering, pruritus, ruam kulit, artralgia, mialgia, astenia, menggigil, kelelahan, penyakit mirip influenza, demam, penurunan berat badan; umum: bronkitis, selulitis, herpes simpleks, influenza, infeksi jamur pada mulut, sinusitis, leukopenia, trombositopenia, gondok, hipotiroidisme, dehidrasi, hiperglikemia, hipertrigliserid, hiperurisemia, agitasi, gangguan libido, perubahan suasana hati, gangguan tidur, hipoestesia, paraestesia, pingsan, amnesia, sulit berkonsentrasi, gangguan ingatan, migren, parosmia, tremor, vertigo, mata kering, retinal exudates, penglihatan kabur, tinitus, palpitasi, hipotensi, hipertensi, mimisan, kongesti nasal, nyeri orofaring, kongesti saluran pernapasan, kongesti sinus, mengi, nyeri abdomen, konstipasi, gastroesophageal reflux disease (GERD), wasir, gangguan abdomen, distensi abdomen, ketidaknyamanan pada anus, aphthous stomatitis, cheilitis, dispepsia, perut kembung, glossodynia, tukak mulut, nyeri mulut stomatitis, gangguan gigi, dermatitis, eksim, eritema, hiperhidrosis, berkeringat di malam hari, edema perifer, psoriasis, ruam eritematosa, ruam makular, ruam makulopapular, ruam papular, ruam pruritis, lesi pada kulit, nyeri punggung, nyeri ekstremitas, kejang otot, lemah otot, nyeri leher, pollakiuria, disfungsi ereksi, rasa tidak nyaman pada dada, nyeri dada, malaise, perubahan suhu tubuh, kekeringan mukosa, nyeri; tidak umum: gastroenteritis, pneumonia, infeksi staphylococcal, kandidiasis, ineksi telinga, infeksi jamur pada kulit, nasofaringitis, onkomikosis, faringitis, infeksi saluran napas, prinitis, infeksi kulit, infeksi saluran kemih, diatesis hemoragik, limfadenopati, limfopenia, hipotiroidisme, hipokalemia, gangguan nafsu makan, diabetes melitus, gout, hiperkalsemia, pikiran untuk bunuh diri, serangan panik, paranoid, perubahan status mental, rasa bingung, neuropati perifer, gangguan kognitif, hiperestesia, lesu, hilang kesadaran, gangguan mental, neuralgia, presyncope, iskemik retina, retinopati, sensasi abnormal pada mata, hemoragik konjungtiva, konjungtivitis, nyeri mata, pruritus mata, mata bengkak, udem kelopak mata, peningkatan lakrimasi, hiperemia okular, fotofobia, tuli, rasa tidak nyaman pada telinga, gangguan pendengaran, takikardi, aritmia, gangguan kardiovaskular, deep vein thrombosis, flushing, pallor, rasa dingin pada perifer, nyeri pleuritik, embolisme paru, tenggorokan kering, disfonia, peningkatan sekresi saluran napas atas, oropharyngeal blistering, abdominal pain lower, gastritis, pankreatitis, pruritus anus, kolitis, disfagia, kelainan warna feses, sering buang air besar, perdarahan gusi, nyeri gusi, radang gusi, glositis, bibir kering, odinofagia, proktalgia, hemoragik rektal, hipersekresi saliva, gigi sensitif, kelainan warna lidah, tongue ulceration, hiperbilirubinemia, reaksi fotosensitivitas, skin ulcer, urtikaria, nyeri dada muskuloskelet, artritis, nyeri tulang, pembengkakan sendi, nyeri muskuloskelet, disuria, nokturia, amenore, menorrhagia, metrorrhagia, gangguan proses penyembuhan, nyeri dada non-kardiak, bunyi murmur jantung, peningkatan denyut jantung; jarang: epiglotitis, otitis media, sepsis, neoplasma tiroid, hemolisis, sarkoidosis, porfiria non-akut, gangguan bipolar, usaha bunuh diri, halusinasi, iskemia serebral, ensefalopati, papiloedema, infark miokard akut, fibrilasi atrium, penyakit arteri koroner, perikarditis, efusi perikardium, pleural fibrosis, ortopnea, gagal napas, insufisiensi pankreas, kolesistitis, aspermia.

Dosis: 

oral, 800 mg tiga kali sehari bersama makanan.

DARUNAVIR

Indikasi: 

infeksi virus HIV pada pasien yang pernah diobati dengan antiretroviral (dalam kombinasi dengan ritonavir 100 mg dan dengan agen antiretroviral lain).

Peringatan: 

Pasien harus diberitahu bahwa terapi antiretroviral saat ini tidak menyembuhkan HIV dan belum terbukti mencegah transmisi HIV. Perhatian harus terus diberikan.

Penggunaan antiretroviral pada anak dan lansia belum didukung oleh data yang memadai.

Penggunaan pada lansia harus lebih hati-hati karena frekuensi penurunan fungsi hati dan penyakit lain atau terapi lain lebih besar pada populasi ini.

Darunavir hanya boleh digunakan dalam kombinasi dengan ritonavir 100 mg untuk meningkatkan profil farmakokinetik (lihat bagian Farmakokinetik). Menaikkan dosis ritonavir tidak dianjurkan karena tidak mempengaruhi kadar dalam darah darunavir secara signifikan. Hati-hati penggunaan pada pasien yang alergi terhadap sulfonamid. Pengobatan dihentikan jika terjadi kemerahan kulit yang parah.

 

Pasien dengan penyakit penyerta

Penyakit hati

Pasien dengan disfungsi hati (pre-existing), termasuk hepatitis aktif kronik dapat mengalami peningkatan frekuensi abnormalitas fungsi hati selama kombinasi dengan terapi antiretroviral dan harus dimonitor sesuai praktek standar. Pengobatan harus dihentikan jika penyakit hati menjadi semakin parah.

Penyakit ginjal

Bersihan ginjal darunavir terbatas sehingga penurunan bersihan secara total tidak dapat terjadi pada pasien dengan kerusakan ginjal. Darunavir dan ritonavir terikat secara kuat pada protein plasma sehingga keduanya tidak akan hilang secara signifikan oleh hemodialisis atau dialisis peritoneal.

Hemofilia

Dilaporkan terjadi peningkatan perdarahan, termasuk hematoma kulit spontan dan hemartrosis pada pasien dengan hemofilia tipe A dan B yang diobati dengan penghambat protease. Pada beberapa pasien perlu diberikan faktor VIII tambahan. Pada lebih dari setengah kasus, pengobatan dengan penghambat protease dilanjutkan atau dimulai kembali jika pengobatan dihentikan. Pasien hemofilia harus hati-hati terhadap kemungkinan peningkatan perdarahan.

Hiperglikemia

Diabetes mellitus onset baru, hiperglikemia, atau eksaserbasi diabetes melitus yang telah ada dilaporkan terjadi pada pasien yang menerima terapi antiretroviral, termasuk penghambat protease.

Redistribusi lemak dan gangguan metabolik

Kombinasi terapi antiretroviral telah dihubungkan dengan redistribusi lemak tubuh (lipodistrofi) pada pasien terinfeksi HIV. Gangguan lemak harus diatasi dengan benar secara klinik (lihat bagian Efek Samping).

Osteonekrosis

Walaupun etiologinya dinilai multifaktorial (termasuk penggunaan kortikosteroid, konsumsi alkohol, imunosupresi parah, indeks massa tubuh yang tinggi), kasus osteonekrosis telah dilaporkan pada pasien dengan penyakit HIV tingkat tinggi dan/atau pemaparan jangka panjang terhadap kombinasi terapi antiretroviral (CART). Pasien disarankan berobat jika mereka mengalami nyeri sendi, sendi kaku atau kesulitan bergerak.

Sindrom reaktivasi imun

Pada pasien terinfeksi HIV dengan defisiensi imun parah pada saat pemberian kombinasi terapi antiretroviral (CART), reaksi antiinflamatori hingga patogen oportunistik residual atau asimtomatik dapat timbul dan menyebabkan kondisi klinik yang serius atau peningkatan gejala. Biasanya reaksi-reaksi tersebut terlihat pada minggu-minggu atau bulan-bulan pertama inisiasi CART. Contoh yang relevan adalah retinitis sitomegalovirus, infeksi mikobakterial focal dan/atau umum, dan pneumonia Pneumocystis carinii. Setiap gejala inflamasi harus dievaluasi dan diobati jika perlu.

Kehamilan dan menyusui

Kehamilan

Darunavir boleh diberikan pada masa kehamilan hanya jika manfaatnya melebihi resikonya. Tidak ada studi darunavir pada wanita hamil.

Laktasi

Tidak diketahui apakah darunavir dieksresi melalui air susu, tetapi studi pada hewan menunjukkan darunavir dieksresi melalui air susu. Karena potensi transmisi HIV dan potensi efek samping serius pada bayi, para ibu tidak boleh menyusui selama mengkonsumsi darunavir.

Interaksi: 

Darunavir dan ritonavir adalah inhibitor isoform CYP3A4. Pemberian kombinasi keduanya bersama dengan obat yang dimetabolime oleh CYP3A4 dapat meningkatkan konsentrasi plasma obat tersebut, yang dapat meningkatkan atau memperpanjang efek terapetik dan efek samping. Sebagai contoh akibat efek inhibitor isoform CYP3A4 diantaranya adalah penggunaan bersamaan dengan HMG-CoA (simvastatin, lovastatin) dapat meningkatkan risiko miopati, termasuk rabdomiolisis. Kurangi dosis awal atorvastatin, jika diperlukan terapi dengan obat ini. Penggunaan bersamaan dengan inhalasi flutikason propionat meningkatkan konsentrasi plasma flutikason- gunakan terapi alternatif.

Waspadai peningkatan konsentrasi plasma untuk obat dengan indeks terapi sempit dan sangat dipengaruhi metabolisme oleh CYP3A4, seperti amiodaron, bepridil, lidokain sistemik, kuinidin. Dengan pertimbangan yang sama, jangan digunakan bersamaan dengan astemizol, terfenadin, midazolam, triazolam, cisaprid, pimozid dan alkaloid ergot (misal: ergotamin, dihidroergotamin, ergonovin dan metal-ergonovin).

Karena dapat menurunkan konsentrasi plasma darunavir secara signifikan, tidak boleh digunakan bersamaan dengan penginduksi enzim CYP450 seperti fenobarbital, fenitoin, karbamazepin. Juga dengan rifampisin. Penggunaan bersamaan dengan deksametason harus hati-hati. Penggunaan bersamaan dengan rifabutin, dosis awal rifabutin diturunkan menjadi 150 mg setiap dua hari.

Jika digunakan bersamaan dengan metadon, monitor sindrom penghentian opiat (opiate abstinence). Penggunaan bersamaan dengan etinilestradiol dapat menurunkan kadar plasma etinilestradiol, sehingga diperlukan alternatif pengganti atau penambahan metoda kontrasepsi lain. Jika digunakan bersamaan dengan darunavir, tingkatkan dosis inhibitor fosfodiesterase tipe 5 (sildenafil, vardenafil dan tadalafil).

Konsentrasi warfarin dapat terpengaruh jika diberikan bersamaan dengan darunavir/ ritonavir- monitor INR.

Kadar klaritromisin meningkat sebesar 57%, sementara darunavir tidak terpengaruh. Pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal, dosis klaritromisin harus diturunkan.

Pemberian bersamaan dengan vorikonazol, ketokonazol atau itrakonazol, dosis harian ketokonazol atau itrakonazol tidak lebih dari 200 mg. Dosis vorikonazol tidak perlu dilakukan penyesuaian.

Penggunaan bersamaan dengan antidepresan SSRI, perlu dilakukan penyesuaian dosis SSRI secara hati-hati.

Dapat digunakan bersamaan dan tidak diperlukan penyesuaian dosis jika dikombinasi dengan omeprazol atau ranitidin.

 

Penggunaan bersamaan dengan

antiretroviral

Didanosin dianjurkan dikonsumsi dalam keadaan perut kosong. Oleh karena itu didanosin harus diminum 1 jam sebelum atau 2 jam setelah meminum darunavir/ritonavir (yang dikonsumsi bersama makanan).

Dapat digunakan bersamaan dan tidak diperlukan penyesuaian dosis jika dikombinasi dengan efavirenz, nevirapin, atazanavir.

Efek peningkatan farmakokinetik darunavir keseluruhan adalah sebesar 14 kali lipat jika dikombinasikan dengan ritonavir. Karena itu darunavir harus dikombinasikan dengan ritonavir 100 mg sebagai peningkat farmakokinetik.

Kadar darunavir menurun sebesar 53% jika diberikan bersamaan dengan lopinavir/ritonavir (dengan atau tanpa penambahan ritonavir 100 mg). Tidak disarankan mengkombinasikan lopinavir/ritonavir dan darunavir, dengan atau tanpa penambahan dosis rendah ritonavir.

Kadar darunavir menurun sebesar 26% dengan keberadaan saquinavir/ritonavir. Tidak disarankan mengkombinasikan saquinavir dan darunavir, dengan atau tanpa penambahan dosis rendah ritonavir.

Kadar darunavir meningkat sebesar 24% dengan keberadaan indinavir/ritonavir. Kadar indinavir meningkat sebesar 23% dengan keberadaan darunavir/ritonavir. Jika dikombinasikan, dosis indinavir dapat disesuaikan dari 800 mg 2 kali sehari hingga 600 mg 2 kali sehari jika terjadi intoleransi.

Pemberian bersamaan dengan inhibitor protease selain lopinavir/ritonavir, saquinavir, atazanavir, dan indinavir tidak dianjurkan karena belum ada data yang memadai.

Kontraindikasi: 

Hipersensitif; jangan digunakan bersamaan dengan obat dengan indeks terapi sempit dan sangat dipengaruhi metabolismenya oleh CYP3A4, seperti astemizol, terfenadin, midazolam, triazolam, cisaprid, pimozid dan alkaloid ergot (misal: ergotamin, dihidroergotamin, ergonovin dan metilergonovin), (lihat bagian Interaksi Obat).

Efek Samping: 

Umum terjadi (≥ 1/100, < 1/10): hipertrigliseridemia, sakit kepala, diare, muntah, mual, nyeri abdomen, konstipasi.

Tidak umum terjadi (≥ 1/1000 dan < 1/100): folikulitis, anoreksia, hiperkolesterolemia, hiperlipidemia, diabetes mellitus, selera makan berkurang, obesitas, redistribusi lemak, hiponatremia, polidipsia. kebingungan, disorientasi, iritabilitas, mood berubah-ubah, mimpi buruk, ansietas, neuropati perifer, hipoestesia, gangguan ingatan, paraestesia, mengantuk, serangan iskemi sementara, vertigo, infarksi miokard, takikardi, hipertensi, dispnea, batuk, cegukan, flatulen, distensi abdominal, mulut kering, dispepsia, lipoatrofi, berkeringat malam hari, dermatitis alergi, eksim, erupsi kulit toksik, alopesia, medikamentisa dermatitis, hiperhidrosis, inflamasi kulit, kemerahan makulopapular, artralgia, nyeri tak tertahankan, mialgia, osteopenia, osteoporosis, gagal ginjal akut, insufisiensi ginjal, nefrolitiasis, poliuria, ginekomastia, astenia, pireksia, kelelahan, kaku, hipertermia, udem perifer

Kasus kemerahan kulit yang parah, termasuk eritema multiform dan sindrom Stevens-Johnson telah dilaporkan pada uji klinik.

Terapi antiretroviral kombinasi telah dihubungkan dengan redistribusi lemak tubuh (lipodistrofi) pada pasien HIV, termasuk hilangnya lemak subkutan fasial dan perifer, peningkatan CPK, mialgia, miosistis dan rabdomiolisis (jarang terjadi) telah dilaporkan pada penggunaan inhibitor protease.

Pada pasien terinfeksi HIV dengan defisiensi imun parah pada saat inisiasi terapi antiretroviral kombinasi, reaksi inflamasi hingga infeksi oportunistik residual atau asimtomatik dapat timbul.

Dosis: 

Harus selalu dalam kombinasi dengan ritonavir 100 mg.

Dewasa: 600 mg 2 kali sehari diminum bersama 100 mg ritonavir 2 kali sehari dan dengan makanan.

Anak-anak (kurang dari 12 tahun) dan remaja (12 hingga 17 tahun): Khasiat dan keamanan pada populasi ini masih diteliti. Data dosis anjuran untuk populasi tersebut saat ini tidak cukup.

Gangguan fungsi hati: Tidak ada anjuran dosis spesifik. Harus diberikan secara hati-hati pada pasien dengan kerusakan hati.

Gangguan fungsi ginjal: Tidak diperlukan penyesuaian dosis.

Dosis yang terlupa: Dosis yang terlupa harus diminum sesegera mungkin, jika dosis terlupa kurang dari 6 jam. Dosis selanjutnya diminum sesuai jadwal. Jika dosis terlupa lebih dari 6 jam, dosis terlupa dihilangkan dan selanjutnya minum obat sesuai jadwal.

INDINAVIR

Indikasi: 

infeksi HIV dalam kombinasi dengan penghambat reverse transkriptase nukleosida.

Peringatan: 

lihat keterangan di atas; juga pastikan hidrasi yang tepat (risiko nefrolitiasis terutama pada anak); pasien pada risiko nefrolitiasis (monitor untuk nefrolitiasis); hindari pada porfiria.

Interaksi: 

lihat lampiran 1 (Indinavir).

Kontraindikasi: 

menyusui (Lampiran 5).

Efek Samping: 

lihat keterangan di atas; juga dilaporkan mulut kering, hipoestesia, kulit kering, hiperpigmentasi, alopesia, paronisia, nefritis interstisial (dengan kalsifikasi medulari dan atropi kortikal dalam leukosituria berat tanpa gejala), nefrolitiasis (dapat memerlukan penghentian obat, sering terjadi pada anak-anak), disuria, hematuria, kristaluria, proteinuria, pyuria (pada anak), anemia hemolitik.

Dosis: 

800 mg setiap 8 jam; ANAK dan REMAJA 4-17 tahun, 500 mg/m2 setiap 8 jam (maksimal 800 mg setiap 8 jam); ANAK di bawah 4 tahun, khasiat dan keamanan belum diketahui dengan pasti.

Penggunaan: 

Konseling. Obat diberikan 1 jam sebelum atau 2 jam sesudah makan; dapat diberikan dengan makanan ringan rendah lemak; dalam kombinasi dengan tablet didanosin, jarak minum kedua obat selama 1 jam (antasida pada didanosin dapat menurunkan absorpsi indinavir); dalam kombinasi dengan ritonavir dosis rendah, diberikan bersama makanan.

RITONAVIR

Indikasi: 

infeksi HIV dalam kombinasi dengan penghambat reverse transkriptase nukleosida; dosis rendah digunakan untuk meningkatkan efek beberapa penghambat protease.

Peringatan: 

lihat keterangan diatas; hindari pada porfiria; pankreatitis.

Interaksi: 

lihat lampiran 1 (Ritonavir).

Kontraindikasi: 

menyusui (Lampiran 5).

Efek Samping: 

lihat catatan dan peringatan diatas; juga dilaporkan, diare (dapat mengganggu absorpsi, diperlukan monitoring ketat), iritasi tenggorokan, vasodilatasi, sinkop, hipotensi, drowsiness, paraestesia periferal dan sirkumoral, hiperestesia, seizure, peningkatan kadar asam urat, mulut kering dan ulserasi, batuk, ansietas, demam, penurunan kadar tiroksin dalam darah, menoragia, berkeringat, gangguan keseimbangan elektrolit, peningkatan waktu protrombin.

Dosis: 

Awal 300 mg setiap 12 jam selama 3 hari, ditingkatkan 100 mg setiap 12 jam selama tidak lebih dari 14 hari hingga menjadi 600 mg setiap 12 jam; ANAK di atas 2 tahun, awal 250 mg/m2 setiap 12 jam, ditingkatkan 50 mg/m2 setiap 2-3 hari hingga menjadi 350 mg/m2 setiap 12 jam (maksimal 600 mg setiap 12 jam)Dosis rendah booster untuk meningkatkan efek penghambat protease lain, 100-200 mg sekali atau dua kali sehari.

SAQUINAVIR

Indikasi: 

infeksi HIV dalam kombinasi dengan obat antiretrovirus lain.

Peringatan: 

lihat keterangan di atas; hati-hati penggunaan bersamaan dengan garlic (hindari kapsul garlic– menurunkan kadar saquinavir pada plasma).

Interaksi: 

lihat lampiran 1 (Saquinavir).

Kontraindikasi: 

menyusui (Lampiran 5).

Efek Samping: 

lihat keterangan di atas; juga ulserasi mukosa dan bukal, nyeri dada, neuropati perifer, perubahan mood, demam, perubahan libido, verruca, nefrolitiasis.

Dosis: 

dengan ritonavir dosis rendah, DEWASA dan REMAJA di atas 16 tahun, 1 g setiap 12 jam, dalam 2 jam setelah makan.