5.4.1.1 Penghambat Reverse Transkriptase Nukleosida (NRTIs)

Peringatan. Penghambat reverse transkriptase nukleosida (NRTIs) sebaiknya digunakan dengan hati-hati pada pasien dengan hepatitis B dan C kronis (meningkatkan risiko efek samping pada hati), pada gangguan hati, pada gangguan ginjal dan saat kehamilan.

Laktat asidosis. Laktat asidosis yang mengancam jiwa karena hepatomegali dan hepatic steatosis telah dilaporkan pada penggunaan penghambat everse transkriptase nukleosida. Obat ini sebaiknya digunakan dengan hati-hati pada pasien hepatomegali (terutama wanita dengan obesitas), hepatitis (terutama hepatitis C yang diterapi dengan interferon alfa dan ribavirin), abnormalitas enzim hati dan faktor risiko lain untuk penyakit hati dan hepatic steatosis (termasuk penyalahgunaan alkohol). Terapi dengan penghambat reverse transkriptase nukleosida (NRTIs) sebaiknya dihentikan jika terjadi gejala hiperlaktatemia, laktat asidosis, hepatomegali yang terus membesar atau perburukan fungsi hati yang terjadi dengan cepat.

Efek samping: Penghambat reverse transkriptase nukleosida menyebabkan gangguan saluran cerna (seperti mual, muntah, nyeri lambung, flatulen, dan diare), anoreksia, pankreatitis, kerusakan hati (lihat juga laktat asidosis, di atas), dispnea, batuk, sakit kepala, insomnia, pusing, kelelahan, gangguan darah (termasuk anemia, neutropenia dan trombositopenia), mialgia, artralgia, ruam, urtikaria dan demam. Lihat keterangan di atas untuk efek metabolik dan lipodistrofi.

Monografi: 

DIDANOSIN

Indikasi: 

infeksi HIV progresif atau lanjut; dalam kombinasi dengan antiretroviral yang lain.

Peringatan: 

riwayat pankreatitis (perhatian khusus); neuropati perifer, hiperurisemia; monitor enzim hati (tangguhkan obat bila terjadi penyimpangan); gangguan fungsi hati, gangguan fungsi ginjal, kehamilan; perlu pemeriksaan retina terutama pada anak di bawah 6 bulan, atau bila terjadi gangguan fungsi penglihatan.
PANKREATITIS. Tangguhkan pengobatan jika terjadi peningkatan amilase serum (walaupun asimtomatik) sampai diagnosis pankreatitis dapat disingkirkan. Bila nilai amilase kembali normal, obat hanya boleh diberikan bila benar-benar diperlukan (gunakan dosis rendah dan naikkan bertahap). Hindarkan sedapat mungkin kombinasi dengan obat yang bersifat toksik terhadap pankreas. Jika kombinasi tidak dapat dihindari, lakukan pengawasan yang ketat. Lakukan juga pengawasan ketat bila terjadi peningkatan trigliserida.

Interaksi: 

Lampiran 1 (didanosin).

Kontraindikasi: 

gangguan fungsi hati karena pemberian didanosin sebelumnya; ibu menyusui.

Efek Samping: 

pankreatitis; neuropati perifer, terutama pada infeksi lanjut (tangguhkan pemberian obat); hiperurisemia asimtomatik (tangguhkan pemberian obat), diare (adakalanya berat), mual, muntah, mulut kering, reaksi hipersensitivitas, gangguan retina dan nervus optikus (terutama pada anak); diabetes melitus.

Dosis: 

DEWASA berat badan kurang dari 60 kg, 125 mg tiap 12 jam, berat badan lebih dari 60 kg, 200 mg tiap 12 jam, ANAK di atas 3 bulan, 120 mg/m2 tiap 12 jam (90 mg/m2 bila dikombinasi dengan zidovudin).

LAMIVUDIN

Indikasi: 

infeksi HIV progresif, dalam bentuk sediaan kombinasi dengan obat-obat antiretroviral lainnya. infeksi hepatitis B kronik dengan bukti adanya replikasi virus hepatitis B.

Peringatan: 

kelainan fungsi ginjal (lihat Lampiran 3), penyakit hati yang disebabkan infeksi hepatitis B kronis (risiko kembalinya hepatitis saat penghentian pengobatan); kehamilan (dianjurkan untuk dihindari pada trimester pertama); pasien hepatitis B yang di bawah 16 tahun.

Interaksi: 

lampiran 1 (lamivudin).

Kontraindikasi: 

wanita menyusui; hipersensitif terhadap lamivudin.

Efek Samping: 

infeksi saluran nafas bagian atas, mual, muntah, diare, nyeri perut; batuk; sakit kepala, insomnia; malaise, nyeri muskuloskelatal; gejala nasal; dilaporkan adanya neuropati periferal; pankreatitis (jarang, bila terjadi hentikan pengobatan); neutropenia dan anemia (dalam kombinasi dengan zidovudin); trombositopenia; dilaporkan terjadinya peningkatan enzim hati dan amilase serum.

Dosis: 

150 mg dua kali sehari (sebaiknya tidak bersama makanan); dosis yang direkomendasikan untuk hepatitis B kronik 100 mg sehari satu kali; ANAK di bawah 12 tahun, keamanan dan khasiatnya belum diketahui.

LOPINAVIR + RITONAVIR

Indikasi: 

terapi lini kedua HIV/AIDS dalam kombinasi dengan antivirus lainnya.

Peringatan: 

diabetes mellitus, pankreatitis, gangguan fungsi hati, hemofilia, redistribusi lemak, sindrom rekonstitusi imun, osteonekrosis, menyusui (hentikan menyusui selama menggunakan Lopinavir dan Ritonavir karena potensi efek samping dan transmisi HIV pada bayi), lansia; monitor plasma metadon pada penggunaan bersama metadon; tidak direkomendasikan penggunaan bersama tipranavir, lovastatin, simvastatin, atorvastatin, vorikonazol.

Interaksi: 

Penggunaan bersama dengan benzodiazepin (midazolam, triazolam), derivat ergot (ergotamin, dihidroergotamin, ergonovin, metilergonovin), neuroleptik (pimozid), motilitas saluran cerna (cisaprid), antihistamin (astemizol, terfenadin) dapat menyebabkan kejadian serius dan/atau berhubungan dengan keselamatan jiwa; penggunaan bersama dengan anti mikobakteri rifampisin dapat menyebabkan penurunan kadar lopinavir; penggunaan bersama kortikosteroid (flutikason propionat) dapat meningkatkan kadar plasma flutikason propionat dan menurunkan kadar serum kortisol; penggunaan bersama dengan flutikason propionat serta budesonid inhalasi atau intranasal dapat menyebabkan efek kortikosteroid sistemik termasuk sindrom chusing dan supresi renal; penggunaan bersama dengan obat disfungsi ereksi (sildenafil, tadalafil atau vardenafil) dapat meningkatkan kejadian efek samping seperti hipotensi dan ereksi lebih lama; penggunaan bersama dengan penghambat HMG-CoA reduktase (lovastatin, simvastatin, atorvastatin) meningkatkan konsentrasi plasma; penggunaan bersama dengan tipranavir menurunkan kadar lopinavir; penggunaan bersama dengan obat penghilang lemak dapat meningkatkan konsentrasi kolesterol total dan trigliserid; penggunaan bersama dengan zidovudin dan abakavir menurunkan kadar plasma zidovudin dan abakavir; penggunaan bersama dengan tenofovir berhubungan dengan kejadian efek samping; penggunaan bersama dengan evafirenz dan nevirapin menurunkan konsentrasi plasma lopinavir/ritonavir; penggunaan bersama dengan delavirdin meningkatkan kadar plasma lopinavir; penggunaan bersama dengan amprenavir, indinavir, nelfinavir dan sakuinavir diduga dapat meningkatkan kadar obat-obat tersebut; penggunaan bersama dengan fosamprenavir menurunkan kadar plasma lopinavir; penggunaan bersama dengan antiaritmia (amiodaron, bepridil, lidokain sistemik dan kuinidin) meningkatkan kadar antiaritmia; penggunaan bersama dengan digoksin meningkatkan kadar digoksin; penggunaan bersama dengan warfarin mempengaruhi kadar warfarin; penggunaan bersama ritonavir trazodon dapat meningkatkan konsentrasi trazodon dan kemungkinan terjadinya efek samping (mual, pusing, hipotensi, dan syncope); penggunaan bersama dengan antikonvulsan (fenobarbital, fenitoin dan karbamazepin) menginduksi CYP3A4 dan menurunkan konsentrasi lopinavir; penggunaan bersama dengan ketokonazol dan itrakonazol meningkatkan kadar serum ketokonazol dan itrakonazol; penggunaan bersama dengan vorikonazol menurunkan kadar tunak varikonazol; penggunaan bersama dengan klaritromisin meningkatkan kadar klaritromisin; penggunaan bersama dengan atovakuon menurunkan kadar atovakuon; penggunaan bersama dengan penghambat pompa kalsium (felodipin, nifedipin dan nikardipin) meningkatkan kadar serum penghambat pompa kalsium; penggunaan bersama dengan imunosupresan (siklosporin, takrolimus, dan sirolimus) meningkatkan kadar imunosupresan; penggunaan bersama metadon menurunkan kadar plasma metadon; penggunaan bersama etinilestradiol menurunkan kadar etinilestradiol.

Kontraindikasi: 

hipersensitivitas terhadap Lopinavir dan Ritonavir; gangguan hati berat; penggunaan bersama dengan benzodiazepin (midazolam, triazolam), derivat ergot, (ergotamin, dihidroergotamin, ergonovin, metilergonovin), neuroleptik (pimozid), motilitas saluran cerna (cisaprid), antihistamin (astemizol, terfenadin); pemberian bersama Rifampisin.

Efek Samping: 

diare, mual, astenia, nyeri abdomen, muntah, sakit kepala, dispepsia, kembung, insomnia, parastesia, anoreksia, nyeri, depresi, lipodistrofi, ruam, mialgia, penurunan berat badan, pembesaran abdomen, penurunan libido, tinja yang abnormal, gangguan vaskular, bronkitis, hipogonadisme pada pria, amenore, hipertensi, menggigil, demam.

Dosis: 

Tablet ditelan, tidak boleh dikunyah, diapatahkan atau dihancurkan.

Dewasa: pasien yang baru memulai pengobatan: Lopinavir/Ritonavir 400/100 mg dua kali sehari dengan atau tanpa makanan atau 800/200 mg sekali sehari dengan atau tanpa makanan. Pasien yang sudah mempunyai riwayat terapi sebelumnya; Lopinavir/Ritonavir tablet 400/100 mg dua kali sehari dengan atau tanpa makanan.

Terapi bersama dengan obat lain: Efavirenz, nevirapin, amprenavir atau nelvinafir: peningkatan dosis Lopinavir/Ritonavir sampai dengan 500/125 mg dua kali sehari perlu dipertimbangkan pada penggunaan bersamaan pada pasien yang sudah mempunyai riwayat terapi sebelumnya dimana di duga mengalami penurunan sensitifitas secara klinis terhadap Lopinavir (berdasarkan riwayat terapi atau hasil pemeriksaan laboratorium). Sebaiknya lopinavir/ritonavir tidak diberikan sekali sehari.

Anak-anak: Lopinavir/Ritonavir 400/100 mg dua kali sehari yang tidak digunakan bersama efafirenz, nevirapin, nelvinafir atau amprenavir dapat diberikan pada anak dengan BB 35 kg atau lebih atau dengan luas area permukaan tubuh (BSA) 1,4 m2 atau lebih. Pada anak dengan BB kurang dari 35 kg atau dengan luas area permukaan tubuh (BSA) antara 0,6 sampai dengan 1,4 m2 dan sudah dapat menelan tablet utuh, mengikuti aturan dosis sebagai berikut:

-    BSA ≥ 0,6 - < 0,9: 2 tablet 200/50 mg, 2 kali sehari

-    BSA ≥ 0,9 - < 1,4: 3 tablet 300/75 mg, 2 kali sehari

-    BSA ≥ 1,4: 4 tablet 400/100 mg, 2 kali sehari

TENOFOVIR DISOPROKSIL FUMARAT

Indikasi: 

terapi lini kedua pengobatan HIV-1, dalam kombinasi dengan antiretroviral lainnya; Pengobatan hepatitis B kronik pada pasien dewasa dengan penyakit hati kompensasi dan dekompensasi.

Peringatan: 

tidak direkomendasikan digunakan bersamaan dengan produk lain yang mengandung tenofovir disoproksil fumarat. Gagal ginjal, kerusakan ginjal, peningkatan nilai kreatinin, hipofosfatemia, proksimal tubulopati (termasuk sindrom Fanconi), penurunan bone mineral density (BMD), eksaserbasi hepatitis, laktat asisosis, lipodistrofi, disfungsi mitokondria, immune reconstitution syndrome, osteonekrosis, menyusui, lansia. Perlu pengawasan yang ketat pada  pasien dengan hepatobilier, gangguan hati atau sirosis. Tidak direkomendasikan untuk anak-anak.

Interaksi: 

Didanosin: menyebabkan kegagalan terapi, meningkatkan konsentrasi didanosin, penurunan jumlah sel CD4, dan meningkatkan terjadinya efek samping didanosin seperti  pankreatitis dan laktat asidosis (jarang); Lamivudin dan abakavir atau lamivudin dan didanosin: kegagalan terapi; Obat nefrotoksik (aminoglikosida, amfoterisin B, foskarnet, gansiklovir, pentamidin, vankomisin, sidofovir, atau interleukin 2): meningkatkan risiko nefrotoksis; Lamivudin dan efavirens:  menurunkan bone mineral density; Analog nukleosida: kegagalan terapi, laktat asidosis, steatosis hepatik, anemia, neutropenia, hiperlaktatemia, hiperlipasemia, hipertonia, kejang, perilaku abnormal; Atazanavir : meningkatkan konsentrasi tenofovir dan menurunkan konsentrasi atazanavir; Lopinavir/ritonavir atau dengan darunavir/ritonavir : meningkatkan konsentrasi tenofovir.

Kontraindikasi: 

hipersensitivitas.

Efek Samping: 

sangat umum: hipofosfatemia, pusing, diare, muntah, mual, ruam kulit, astenia; Umum: peningkatan transaminase, sakit kepala, nyeri dada, distensi pada bagian abdomen, perut kembung; Tidak umum: hipokalemia, pankreatitis, rabdomiolisis, lemas otot, peningkatan kreatinin; Jarang: asidosis laktat, steatosis hepatik, hepatitis, angioedema, osteomalasia, miopati, gagal ginjal akut, gagal ginjal, nekrosis tubular akut, renal proksimal tubulopati, diabetes insipidus nefrogenik.

Dosis: 

Dewasa: HIV dan hepatitis B kronik, 300 mg satu kali sehari diberikan bersamaan dengan makanan.

Hepatitis B kronik. Pemberhentian pengobatan dapat dipertimbangkan dengan hasil uji HbeAg,  jika hasil uji HBeAg positif tanpa sirosis, pengobatan dapat dilaksanakan minimal selama 6-12 bulan setelah serokonversi HBs tetapi jika, hasil uji HBeAg negatif tanpa sirosis, pengobatan dapat dilanjutkan hingga serokonversi HBs. Pasien dengan klirens kreatinin 30-49 mL/min, interval dosis yang dianjurkan setiap 48 jam. Pasien dengan klirens kreatinin < 30mL/min dosis yang dianjurkan 300 mg tenofovir disoproksil fumarat dapat diberikan setiap 72-96 jam (2 kali dalam seminggu) bila tidak terdapat pilihan terapi lain dalam pengobatan. Bagi pasien hemodialisis 300 mg tenofovir disoproksil fumarat dapat diberikan setiap 7 (tujuh) hari. Dengan asumsi hemodialisis dilakukan tiga kali dalam seminggu masing-masing selama 4 jam atau total kumulatif 12 jam per minggu.

TENOFOVIR DISOPROKSIL FUMARAT + EMTRISITABIN

Indikasi: 

terapi lini kedua untuk pengobatan HIV-1 pada pasien dewasa, dalam kombinasi dengan anti retroviral lainnya (seperti penghambat protease atau penghambat reverse transkriptase nukleosida (NRTIs)).

Tidak direkomendasikan digunakan sebagai: salah satu komponen pada triple regimen nukleosida, kombinasi dengan produk yang mengandung lamivudin.

Penggunaan pada pasien yang pernah mendapatkan terapi obat ini sebelumnya berdasarkan pada pemeriksaan laboratorium dan riwayat pengobatan.

Peringatan: 

Dilaporkan terjadi asidosis laktat dan hepatomegali berat dengan steatosis, serta kasus fatal pada penggunaan bersama dengan anti virus lainnya– hentikan penggunaan; obesitas dan penggunaan nukleosida jangka panjang merupakan faktor resiko. Terapi dengan obat ini harus ditunda pada pasien dengan kecurigaan asidosis laktat atau hepatotoxicity (termasuk hepatomegali dan steatosis). Tidak digunakan untuk terapi HBV kronik, dilaporkan terjadi perburukan hepatitis B akut yang berat setelah penghentian penggunaan obat ini; menyebabkan gangguan fungsi ginjal, diperlukan penyesuaian dosis pada pasien dengan klirens kreatinin 30-49 mL/min; tidak dapat digunakan pasien gangguam ginjal dengan klirens creatinin <30 mL/min/hemodialisis; hindari penggunaan bersama dengan obat nefrotoksik, obat yang mengandung lamivudine dan adefovir dipivoxil; Menyebabkan penurunan Bone Mineral Density (BMD); redistribusi / akumulasi lemak tubuh; Immune Reconstitution Syndrome; kehamilan, menyusui, anak usia di bawah 18 tahun, lansia.

Interaksi: 

penggunaan bersama dengan didanosin dapat meningkatkan terjadinya efek samping didanosin seperti pancreatitis dan neuropathy; Supresi CD4 dapat terjadi pada penggunaan bersama didanosine 400 mg per hari; Penggunaan bersama dengan atazanavir harus disertai dengan ritonavir, lopinavir/ritonavir dan meningkatkan konsentrasi tenofovir; penggunaan bersama dengan obat yang dieliminasi dengan sekresi tubular aktif akan meningkatkan konsentrasi tenofovir, misalnya asiklovir, adefovir, dipivoksil, sidofovir, gansiklovir, valacyclovir, valgansiclovir.

Kontraindikasi: 

hipersensitivitas.

Efek Samping: 

Asidosis laktat/Hepatomegaly berat dengan steatosis; eksaserbasi akut tingkat berat Hepatitis B; episode baru atau perburukan gangguan ginjal; penurunan Bone Mineral Density; osteomalasia; redistribusi/akumulasi lemak tubuh termasuk obesitas sentral, buffalo hump, atrofi perifer, atropi facial, pembesaran payudara, “cushingoid appearance”; Immune Reconstitution Syndrome.

Dosis: 

1 tablet sekali sehari (1 tablet mengandung 200 mg emtrisitabin + 300 mg tenofovir disoproksil fumarat) bersama atau tanpa makanan. Pada pasien dengan klirens kreatinin ≥ 50 mL/min, interval dosis yang disarankan yaitu setiap 24 jam. Sedangkan untuk klirens kreatinin 30-49 mL/min, interval dosis yang disarankan yaitu setiap 48 jam. Pasien dengan klirens kreatinin < 30 (termasuk yang memerlukan hemodialisa), obat ini sebaiknya tidak digunakan.

ZALSITABIN

Indikasi: 

infeksi HIV lanjut pada dewasa yang tidak tahan terhadap zidovudin (anemia, netropenia) atau pada pasien yang gagal diobati dengan zidovudin (perburukan klinis, penurunan status imunologis progresif).

Peringatan: 

pasien dengan risiko neuropati perifer; pankreatitis monitor amilase serum, alkoholisme, nutrisi parenteral, kardiomiopati, riwayat gagal jantung kongestif, hepatotoksisitas, kehamilan (wanita usia produktif harus menggunakan kontrasepsi yang aman), gangguan fungsi ginjal. Neuropati perifer, Hentikan obat dengan segera bila timbul gejala-gejala neuropati (rasa kesemutan, baal, panas, rasa ditusuk-tusuk). Perhatian khusus dan pengawasan ketat harus dilakukan pada pasien dengan risiko neuropati (terutama bila perhitungan sel CD4 rendah karena resikonya lebih besar).Pankreatitis. Bila timbul pankreatitis, obat harus dihentikan secara permanen. Tangguhkan pemberian obat bila terjadi peningkatan amilase, gula darah, trigliserida; penurunan kalsium serum atau gejala lain yang berhubungan dengan pankreatitis. Tunda pemberian obat bila dalam waktu bersamaan diperlukan obat yang potensial toksik terhadap pankreas (mis. pentamidin isothionat intravena). Hepatotoksisitas, Pernah dilaporkan asidosis laktat yang potensial fatal dan hepatomegali, hati-hati bila ada hepatitis, peningkatan enzim hati, riwayat alkoholisme. Hentikan obat bila terjadi perburukan fungsi hati, hepatomegali atau asidosis laktat yang tidak bisa diterangkan.

Interaksi: 

Lampiran 1 (zalsitabin).

Kontraindikasi: 

neuropati perifer, ibu menyusui.

Efek Samping: 

neuropati perifer, ulkus mulut, mual, muntah, disfagia, anoreksia, diare, sakit perut, konstipasi; faringitis, sakit kepala, pusing, mialgia, artralgia, ruam, pruritus, hiperhidrosis, penurunan berat badan, lesu, demam, nyeri dada, anemia, leukopenia, trombositopenia, gangguan fungsi hati, pankreatitis, ulkus esofagus, ikterus dan kerusakan hepatoselular. Gangguan pengecapan, takikardi, kardiomiopati, astenia, tremor, gangguan pergerakan, gangguan penglihatan dan pendengaran, hiperurisemia dan gangguan ginjal.

Dosis: 

750 mcg tiga kali sehari, LANSIA dan ANAK di bawah 13 tahun keamanan belum terbukti.

ZIDOVUDIN

Indikasi: 

pengobatan infeksi HIV lanjut (AIDS), HIV awal dan HIV asimtomatik dengan tanda-tanda risiko progresif, infeksi HIV asimtomatik dan simtomatik pada anak dengan tanda-tanda imuno defisiensi yang nyata; dapat dipertimbangkan untuk tansmisi HIV maternofetal (mengobati wanita hamil dan bayi baru lahir); terapi kombinasi antiretroviral untuk penanganan infeksi HIV pada pasien dewasa dan anak-anak di atas 12 tahun.

Peringatan: 

gangguan fungsi ginjal; toksisitas hematologis (lakukan uji darah tiap 2 minggu selama 3 bulan pertama, selanjutnya sebulan sekali; pemeriksaan darah dapat lebih jarang, tiap 1-3 bulan, pada infeksi dini dengan fungsi sumsum tulang yang baik ); defisiensi vitamin B12 (risiko neutropenia); kurangi dosis atau berikan terapi intermiten bila terjadi anemia atau mielosupresi; gangguan fungsi hati, fungsi ginjal; awasi dengan ketat pasien dengan risiko penyakit hati (terutama wanita gemuk) termasuk pasien dengan hepatomegali dan hepatitis; risiko asidosis laktat; lansia; kehamilan; tidak dianjurkan menyusui selama pengobatan.

Interaksi: 

Lampiran 1 (zidovudin).

Kontraindikasi: 

neutropenia dan/atau anemia berat; neonatus dengan hiper bilirubinemia yang memerlukan terapi selain fototerapi atau dengan peningkatan transaminase.

Efek Samping: 

anemia (adakalanya memerlukan transfusi), neutropenia dan lekopenia (lebih sering pada dosis tinggi dan penyakit lanjut); mual, muntah, anoreksia, sakit perut, dispepsia, sakit kepala, ruam, demam, mialgia, parestesia, insomnia, lesu. Pernah dilaporkan kejang, miopati, pigmentasi pada kuku, kulit dan mukosa, pansitopenia (dengan hipoplasia sumsum tulang dan kadang-kadang trombositopenia); gangguan hati berupa perlemakan dan kenaikan bilirubin dan enzim hati (tangguhkan pengobatan bila terjadi hepatomegali atau peningkatan transaminase progresif); asidosis laktat.

Dosis: 

DEWASA dan REMAJA: dalam kombinasi dengan antiretroviral lain 500-600 mg/hari terbagi dalam 2 atau 3 dosis. ANAK 3 BULAN-12 TAHUN: 360-480 mg/m2 perhari terbagi dalam 3-4 dosis dalam kombinasi dengan antiretroviral lain. Dosis maksimum tidak boleh melebihi 200 mg tiap 6 jam. ANAK <3 BULAN: data sangat terbatas untuk menentukan rekomendasi dosis. Tidak tersedia data pada usia lanjut, sehingga pemantauan sebelum dan sesudah pengobatan dianjurkan.

Penyesuai dosis tidak diperlukan pada gangguan ginjal. Pada gangguan fungsi hepar mungkin diperlukan penyesuaian dosis. Pengurangan dosis atau penghentian pengobatan diperlukan pada pasien yang menunjukkan efek samping hematologi dengan penurunan kadar hemoglobin menjadi 7.5–9 g/dL, atau hitung jenis neutrofil menurun menjadi 0,75-1,0x109/L.

Pencegahan transmisi HIV maternofetal: Kehamilan lebih dari 14 minggu, oral, 100 mg 5 kali sehari sampai saat persalinan, kemudian pada fase persalinan dan setelah bayi lahir. Intravena, dimulai dengan 2 mg/ kg bb selama 1 jam, kemudian 1 mg/kg bb sampai saat penjepitan tali pusat. Untuk operasi sesar selektif, berikan 4 jam sebelum operasi. NEONATUS, Mulai dalam 12 jam setelah lahir: per oral 2 mg/kg bb tiap 6 jam sampai berumur 6 minggu. Atau intravena selama 30 menit dengan dosis1,5 mg/kg bb tiap 6 jam. Pasien yang sewaktu-waktu tidak dapat minum obat per oral, berikan injeksi intravena selama 1 jam dengan dosis 1-2 mg/kg bb tiap 4 jam, biasanya tidak lebih dari 2 minggu. Sediaan kombinasi zidovudin 300 mg dan lamivudin 150 mg dapat diberikan dua kali sehari 1 tablet, dapat diberikan dengan atau tanpa makanan.