4.9.3 Obat untuk Tremor, Khorea, Tiks dan Gangguan Sejenis

Tetrabenazin terutama digunakan untuk mengatasi gangguan gerakan pada khorea Huntington dan gangguan sejenis. Obat ini dapat berperan dengan mengurangi dopamine pada ujung saraf. Obat ini dapat bermanfaat pada sebagian pasien dan efeknya dapat terhambat jika terjadi depresi.

Haloperidol dapat bermanfaat dalam memperbaiki tiks motorik dan gejala sindrom Gilles de la Tourette dan khorea yang terkait. Pimozid (lihat bagian 4.2.1 untuk peringatan), klonidin (bagian 4.7.4.2) dan sulprid (bagian 4.2.1) juga digunakan pada sindroma Gilles de la Tourette. Triheksifenidil (bensheksol) (bagian 4.9.2) pada dosis tinggi dapat memperbaiki beberapa gangguan gerakan; kadang perlu untuk meningkatkan dosis setiap beberapa minggu, hingga 20–30 mg perhari atau lebih. Klorpromazin dan haloperidol digunakan untuk memulihkan cegukan yang sulit diatasi (bagian 4.2.1). Propranolol atau obat beta-bloker lainnya (bagian 2.3.4) dapat bermanfaat untuk mengatasi tremor esensial atau tremor yang disebabkan ansietas atau tirotoksikosis. Propranolol diberikan dalam dosis 40 mg, 2 atau 3 kali sehari, bila perlu ditingkatkan. Dosis 80 mg hingga 160 mg sehari biasanya dibutuhkan sebagai dosis pemeliharaan. Primidon (bagian 4.8.1) pada beberapa kasus memperbaiki tremor esensial ringan. Untuk mengurangi efek samping dosis ditingkatkan secara perlahan.

Pirasetam digunakan sebagai terapi tambahan untuk mioklonus yang penyebabnya kortikal. Riluzol digunakan untuk memperpanjang hidup atau waktu untuk ventilasi mekanik pada pasien dengan penyakit motor neuron yang mengalami sklerosis lateral amiotropik (ALS).

Panduan untuk riluzol
Telah direkomendasikan riluzol digunakan untuk mengatasi individu dengan sklerosis lateral amiotropik, suatu penyakit motor neuron (MND). Terapi sebaiknya dimulai oleh dokter spesialis penyakit motor neuron namun dapat diawasi oleh tim yang mengikut sertakan dokter umum. Tersion dystonia dan pergerakan tidak sadar lainnya.

Botulinum A Toxin (Botox, Lanzox, BTXA, dll).

Monografi: 

TOKSIN BOTULINUM TIPE A

Indikasi: 

perbaikan sementara pada tampilan garis kerutan pada wajah berupa garis vertikal antara alis (glabellar lines) sedang sampai parah pada orang dewasa berusia 20 sampai 65 tahun; pengobatan strabismus dan blepharospasm akibat distonia, termasuk benign essential blepharospasm atau gangguan saraf VII pada pasien usia lebih dari atau sama dengan 12 tahun.

Peringatan: 

peripheral motor neuropathic diseases (amyotrophic lateral sclerosis atau motor neuropathy) atau neuromuscular junctional disorders (miastenia gravis atau Sindroma Lamber-Eaton), pada pasien ini dapat meningkatkan risiko mengalami disfagia berat dan gangguan pernafasan meningkat; khasiat keamanan pada anak di bawah 12 tahun belum diketahui pasti.

Interaksi: 

Hindari penggunaan bersama dengan relaksan otot seperti tubokurarin klorida, natrium dantrolen, antibiotik aminoglikosida (gentamisin sulfat, neomisin sulfat), antibiotik polipentida (polipeptida (polimiksin B Sulfat), tetrasiklin, linkomisin, antikolinergik (skopolamin butilbromida, triheksidil, benzodiazepin dan lain-lain), produk toksin botulinum lain. 

Kontraindikasi: 

hipersensitivitas, gangguan pada persambungan otot dan saraf, gangguan pernapasan berat, hamil, menyusui, gangguan otot kandung kemih dan sedang mengalami infeksi saluraan kemih; gangguan buang air kecil (anuresis akut).

Efek Samping: 

sakit kepala, asthenia, disfonia, disartria, gagap, inkontinensia urin, kesulitan bernapas, diplopia, penglihatan kabur, ptosis, disfagia, bronkitis, infeksi pada saluran nafas, pneumonia, blepharoptosis, lemah otot, mual, nyeri pada wajah, sindroma flu, nyeri pada tempat penyuntikan, eritema, ecchymosis, aritmia dan infark miokard pada pasien yang memiliki faktor risiko, ruam kulit (termasuk eritema multiforme, erupsi urtikaria dan psoriasiform), pruritus, dan reaksi alergi.

Dosis: 

Strabismus: dosis awal: untuk otot vertikal dan strabismus horisontal kurang dari 20 prism diopter; dosis 1,25 U-2,5 U pada setiap satu otot; untuk strabismus horisontal antara 20-50 prism diopter, dosis 2,5 U-5,0 U pada setiap satu otot; untuk palsy saraf VI yang persisten selama 1 bulan atau lebih, dosis 1,25 U-2,5 U pada otot rektus medial. Dosis selanjutnya untuk strabismus lain atau kambuhan: direkomendasikan dilakukan pemeriksaan ulang pada 7-14 hari setelah setiap penyuntikan untuk menilai efek dosis. Dosis lanjutan tidak boleh diberikan hingga efek dari dosis sebelumnya hilang. Dosis maksimal yang direkomendasikan pada setiap sekali penyuntikan untuk setiap otot adalah 25 U.

Blepharospasm: Dosis awal: 1,25 U-2,5 U (0,05 ml-0,1 ml pada setiap tempat penyuntikan), terapi dapat diulang setelah 3 bulan. Jika efek hanya bertahan kurang dari 2 bulan, dosis dapat ditingkatkan menjadi dua kalinya. Tidak lebih dari 5 U pada setiap tempat penyuntikan. Jangka waktu pemberian tidak boleh kurang dari 3 bulan dan gunakan dosis efektif terkecil. Dosis kumulatif dalam perioda 30 hari tidak boleh lebih dari 200 U.

Garis kerutan (Glabellar lines): Dosis awal : 0,1 mL ke masing-masing 5 titik injeksi; 2 suntikan di setiap otot corrugator dan 1 injeksi di otot procerus untuk dosis total 20 Unit.  Hindari injeksi di dekat otot levator palpebrae superioris untuk mengurangi komplikasi ptosis. terutama pada pasien dengan kompleks alis-depresor yang lebih besar. (depressor supercilii). Suntikan ke otot korugator bagian dalam dan alis sentral harus ditempatkan setidaknya 1 cm di atas tulang supraorbital.

Tabel Pengenceran

Jumlah pelarut yang ditambahkan (NaCl 0,9%)

Dosis yang dihasilkan (Unit per ml)

1,0 ml

10,0 U

2,0 ml

5,0 U

4,0 ml

2,5 U

8,0 ml

1,25 U

Catatan: volume yang disuntikkan 0,05 mL– 0,15 mL pada setiap otot.