4.8.2 Status Epileptikus

Status epileptikus merupakan suatu keadaan dimana terjadi serangan epilepsi yang terus-menerus, atau berulang, oleh karena seringnya kejadian sehingga kesadaran pasien tidak pulih diantara dua serangan yang terjadi. Penanganan awal status epileptikus meliputi tindakan meletakkan pasien pada posisi yang aman untuk menghindarkan cedera, membantu respirasi termasuk memberikan oksigen, mempertahankan tekanan darah, dan koreksi jika terjadi hipoglikemia. Jika dicurigai adanya penyalahgunaan alkohol maka pertimbangkan pemberian tiamin secara parenteral, berikan piridoksin bila status epileptikus disebabkan oleh defisiensi piridoksin.

Status epileptikus mayor sebaiknya diterapi awal dengan lorazepam intravena, dapat diulang setelah 10 menit bila kejang timbul kembali. Pemberian diazepam intravena efektif untuk mengatasi kejang, namun obat ini menyebabkan risiko tinggi terjadinya tromboflebitis (berkurang pada penggunaan sediaan emulsi). Bila kejang berlangsung lama atau berulang, atau bila tidak tersedia fasilitas resusitasi, maka sebagai alternatif dapat diberikan dosis tunggal midazolam secara bukal atau intranasal.

Bila tidak tersedia fasilitas resusitasi, diazepam diberikan sebagai larutan rektal. Injeksi intramuskular atau supositoria tidak diberikan pada status epileptikus karena absorpsinya terlalu lambat. Klonazepam dapat pula diberikan sebagai alternatif.

Jika kejang muncul kembali atau gagal memberikan respon dalam 30 menit, dapat diberikan natrium fenitoin, fosfofenitoin atau natrium fenobarbital.

Fenitoin dapat diberikan sebagai injeksi intravena secara perlahan, pengawasan dilakukan dengan EKG, lalu dilanjutkan dengan dosis pemeliharaan. Injeksi fenitoin intramuskular tidak direkomendasikan (absorpsinya lambat dan eratik / dampaknya tidak dapat diperkirakan).

Alternatif lain, fosfenitoin yang merupakan prodrug fenitoin, dapat diberikan secara lebih cepat dan jika diberikan secara intravena menyebabkan efek samping pada tempat penyuntikan yang lebih ringan dibanding fenitoin. Pemberian intravena memerlukan pengawasan melalui EKG. Walaupun bisa diberikan secara intranuskular, absorpsinya terlalu lambat untuk mengatasi status epileptikus. Dosis fosfenitoin sebaiknya dinyatakan sebagai natrium fenitoin. Sebagai alternatif lain dapat diberikan injeksi fenobarbital intravena.

Paraldehid juga dapat bermanfaat. Bila diberikan secara rektal hanya menyebabkan depresi napas yang kecil, sehingga dapat digunakan pada tempat dengan fasilitas resusitasi yang buruk.

Apabila tindakan di atas gagal mengendalikan kejang, lakukan anestesi dengan tiopental (Bagian 15.1.1), midazolam, atau pada pasien dewasa anestesi non barbiturat, dan sebaiknya segera diberikan dengan dukungan perawatan intensif.