Fenitoin

Fenitoin efektif pada kejang tonik-klonik dan kejang fokal (partial). Obat ini memiliki indeks terapi yang sempit serta hubungan antara dosis dan kadar plasma tidak linier. Pada sebagian pasien peningkatan dosis yang kecil dapat menyebabkan peningkatan kadar plasma yang besar dan menimbulkan efek samping toksik yang akut.

Fenitoin dapat menyebabkan kulit wajah kasar, jerawat, hirsutisme, dan hiperplasia gusi (ginggival), sehingga obat ini tidak disukai oleh pasien dewasa.

Bila hanya tersedia sediaan parenteral, fosfofenitoin (bagian 4.8.2), suatu pro-drug dari fenitoin, dapat diberikan dengan mudah. Fenitoin hanya dapat diberikan secara intravena, sedangkan fosfofenitoin dapat pula diberikan secara injeksi intramuskular.

Monografi: 

FENITOIN

Indikasi: 

semua jenis epilepsi, kecuali petit mal; status epileptikus.

Peringatan: 

gangguan hati, hamil, menyusui, penghentian obat mendadak; hindari pada porfiria.

Interaksi: 

lihat lampiran 1 (fenitoin).

Efek Samping: 

gangguan saluran cerna, pusing, nyeri kepala, tremor, insomnia, neuropati perifer, hipertrofi gingiva, ataksia, bicara tak jelas, nistagmus, penglihatan kabur, ruam, akne, hirsutisme, demam, hepatitis, lupus eritematosus, eritema multiform, efek hematologik (leukopenia, trombositopenia, agranulositosis).

Dosis: 

oral: dosis awal 3-4 mg/kg bb/hari atau 150-300 mg/hari, dosis tunggal atau terbagi 2 kali sehari. Dapat dinaikkan bertahap. Dosis lazim: 300-400 mg/hari, maksimal 600 mg/hari. ANAK: 5-8 mg/kg bb/hari, dosis tunggal/terbagi 2 kali sehari. Status epileptikus: intravena lambat atau infus, 15 mg/kg bb, kecepatan maksimal 50 mg/menit (loading dose). Pemeliharaan: sekitar 100 mg diberikan sesudahnya, interval 6-8 jam. Monitor kadar plasma. Pengurangan dosis berdasar berat badan.

Keterangan: 

Sediaan: Lihat 2.2.1.