4.7.4.2 Profilaksis Migren

Jika serangan migren menjadi sering, sebaiknya dicari faktor pemicunya seperti stres, gaya hidup yang tidak teratur (misalnya kurang istirahat), atau pemicu kimia (seperti alkohol dan nitrat); kontrasepsi oral kombinasi dapat juga menjadi faktor pemicu.

Pengobatan pencegahan untuk migren sebaiknya dipertimbangkan untuk pasien yang:
-   mengalami serangan migren setidaknya dua kali sebulan,
-   mengalami peningkatan frekuensi sakit kepala,
-   mengalami disabilitas yang bermakna/mengganggu jika migren tidak diatasi,
-   tidak dapat menerima pengobatan migren yang sesuai.

Profilaksis juga diperlukan pada subtipe migren yang jarang dan pada mereka yang memiliki risiko terkena migrainous infarction.

Beta bloker seperti propanolol, metoprolol, nadolol, dan timolol (bagian 2.4.3) merupakan obat yang efektif. Propanolol merupakan obat yang paling sering digunakan sebagai terapi dengan dosis awal 40 mg 2 hingga 3 kali sehari secara oral. Sediaan beta bloker kerja panjang juga dapat diberikan sebagai dosis tunggal.

Pizotifen merupakan antagonis antihistamin dan serotonin yang secara struktur berkaitan dengan antidepresan trisiklik. Obat ini dapat memberikan efek pencegahan namun dapat menyebabkan kenaikan berat badan. Untuk mencegah timbulnya rasa kantuk, terapi dapat dimulai dengan dosis 500 µg pada malam hari dan ditingkatkan bertahap hingga 3 mg; biasanya tidak perlu lebih tinggi dari dosis ini. Topiramat (bagian 4.8.1) efektif untuk profilaksis migren. Terapi diawasi oleh spesialis.

Antidepresan trisiklik (bagian 4.3.1) (contoh: amitriptilin dengan dosis 10 mg pada malam hari, ditingkatkan hingga dosis pemeliharaan 50-75 mg pada malam hari) juga adalah obat yang efektif untuk mencegah migren. Siproheptadin (bagian 3.4.1) merupakan antihistamin dengan sifat antagonis serotonin dan kemampuan penghambat saluran kalsium, dapat pula digunakan pada kasus yang refrakter (sulit diobati).

Klonidin tidak direkomendasikan dan mungkin dapat memperburuk depresi atau insomnia. Metisergid, merupakan alkaloid ergot semi sintetik, memiliki efek samping yang berbahaya (fibrosis retroperitoneal dan fibrosis katup jantung dan pleura). Obat ini hanya boleh diberikan kepada pasien yang dalam pengawasan rumah sakit.

Monografi: 

KLONIDIN HIDROKLORIDA

Indikasi: 

Hipertensi; migrain.

Peringatan: 

Penghentian sebaiknya dilakukan bertahap untuk menghindari krisis hipertensif; sindroma Raynaud atau penyakit penyumbatan vaskular periferal oklusif lainnya; riwayat depresi; hindari pada porfiria; kehamilan, menyusui.

Interaksi: 

lihat lampiran 1 (klonidin). MENGEMUDI. Rasa mengantuk bisa mempengaruhi kinerja tugas yang memerlukan konsentrasi (misalnya mengemudi); efek alkohol dapat meningkat.

Efek Samping: 

mulut kering, sedasi, depresi, retensi cairan, bradikardia, fenomena Raynaud, sakit kepala, pusing, euforia, tidak bisa tidur, ruam kulit, mual, konstipasi, impotensi (jarang).

Dosis: 

oral, 50-100 mcg 3 kali sehari dinaikkan setiap hari kedua atau ketiga; dosis maksimum sehari biasanya 1,2 mgInjeksi intravena lambat perlahan, 150-300 mcg; maksimum 750 mcg dalam 24 jam.

PIZOTIFEN

Indikasi: 

pencegahan nyeri kepala vaskuler, termasuk migren klasik, migren biasa, dan cluster headache.

Peringatan: 

retensi urin; glaukoma sudut sempit, gangguan fungsi ginjal (lampiran 3), kehamilan (lampiran 4), menyusui (lampiran 5).

Interaksi: 

sedatif, antihistamin, alkohol, depresan SSP. Lampiran 1 (pizotifen).

Kontraindikasi: 

glaukoma sudut sempit, retensi urin.

Efek Samping: 

efek antimuskarinik, mengantuk, nafsu makan bertambah, berat badan bertambah; kadang mual, pusing; jarang ansietas, agresi, dan depresi; pada anak mungkin timbul stimulasi SSP.

Dosis: 

1,5 mg malam hari atau 500 mcg 3 kali sehari, sesuaikan dengan respon. Dosis tunggal maksimal 3 mg, dosis maksimal per hari 4,5 mg dengan dosis terbagi. Dosis ANAK di atas 2 tahun sampai 1,5 mg sehari dalam dosis terbagi. Dosis tunggal maksimal 1 mg malam hari.