4.7.4.1 Terapi Serangan Migren Akut

Pengobatan serangan migren sebaiknya berdasarkan respon terhadap pengobatan sebelumnya dan tingkat keparahan serangan. Analgesik sederhana seperti asetosal, parasetamol (lebih disukai dalam bentuk tablet yang mudah dilarutkan seperti bentuk sediaan effervescent), atau AINS seperti ibuprofen biasanya efektif mengatasi migren. Pengobatan kombinasi bersama dengan antiemetik mungkin diperlukan. Jika pengobatan dengan analgesik tidak mencukupi, serangan dapat diatasi dengan antimigren spesifik seperti agonis 5HT1 (triptan). Ergot alkaloid kini jarang digunakan; sediaan oral dan rektal menyebabkan efek samping yang banyak, dan sebaiknya dihindarkan pada penyakit serebrovaskular atau kardiovaskular. Penggunaan analgesik yang berlebih untuk migren (analgesik opioid, non opioid, agonis 5HT1, dan ergotamin) menyebabkan sakit kepala yang dipicu oleh analgesik. Karena itu peningkatan konsumsi obat-obatan ini perlu ditangani dengan hati-hati.

Monografi: 

DIMETOTIAZIN

Indikasi: 

migren dan nyeri kepala.

Peringatan: 

asma, glaukoma sudut sempit, hipertrofi prostat, retensi urin, hamil, menyusui, kelainan hati dan kardiovaskular.

Interaksi: 

efek sedasi ditingkatkan oleh depresan SSP lain, efek mirip atropin diperkuat oleh antikolinergik lain, anti-depresan trisiklik dan MAOI.

Efek Samping: 

mengantuk, pusing, mulut kering.

Dosis: 

30-40 mg/hari. Dapat ditingkatkan sampai 80 mg.

ERGOTAMIN TARTRAT

Indikasi: 

Serangan migren akut dan migren varian yang tidak responsif terhadap analgesik.

Peringatan: 

risiko vasospasmus perifer; lansia; ketergantungan; tidak dapat untuk profilaksis migren. Vasospasmus: beri peringatan pada pasien untuk segera menghentikan pengobatan jika baal atau kesemutan meningkat secara ekstrem dan untuk menghubungi dokter.

Interaksi: 

lampiran 1 (ergot alkaloid) dan lihat pada Sumatriptan (perhatian).

Kontraindikasi: 

Hipertensi berat atau tidak cukup terkontrol, gangguan hati dan ginjal, penyakit pembuluh darah perifer, penyakit vaskuler obliteratif dan sindrom Raynaud, hamil, menyusui, penyakit jantung koroner, hipertiroid, sepsis, porfiria.

Efek Samping: 

mual, muntah, vertigo, nyeri abdomen, diare, kram otot, dan terkadang sakit kepala bertambah, nyeri dada, iskemia miokard dan intestinal, jarang infark miokard; dosis tinggi berulang dapat menyebabkan ergotisme dengan gangren dan kebingungan; penggunaan berlebihan dapat menimbulkan fibrosis peritoneal, denyut jantung dan pleural; penggunan supositoria jangka panjang dilaporkan dapat menyebabkan ulserasi dan fistula recyovaginal sehingga membatasi penggunaannya melalui rektal atau anal.

Dosis: 

pada mula kerja : 1-2 tablet, maksimal 4 Tablet dalam 24 jam. Dapat diulang dengan interval tidak kurang dari 4 hari, Maksimal : 8 Tablet per minggu. ANAK tidak dianjurkan.