4.5.1. Anti obesitas yang bekerja pada saluran cerna

Orlistat, merupakan penghambat lipase, mengurangi absorpsi asupan lemak. Obat ini digunakan bersamaan dengan diet hipokalorik ringan, diberikan bagi mereka dengan IMT 30 kg/m2 atau bagi mereka dengan IMT 28 kg/m2 yang disertai faktor risiko seperti diabetes melitus tipe 2, hipertensi, atau hiperkolesterolemia.

Orlistat harus digunakan sebagai tambahan dari pendekatan lain dalam penanganan obesitas (bagian 4.5). Direkomendasikan bahwa terapi orlistat hanya boleh diteruskan di atas 6 bulan, hanya bila berat badan telah turun minimal 10 % sejak terapi dimulai. Beberapa pasien yang mengkonsumsi orlistat dan mengalami penurunan berat badan yang mungkin diakibatkan karena pengurangan asupan lemak untuk menghindari efek saluran cerna yang berat termasuk steatore. Suplementasi vitamin (terutama vitamin D) dapat diberikan bila dikhawatirkan terjadi defisiensi vitamin yang larut lemak. Jika orlistat dihentikan dapat terjadi kenaikan berat badan secara bertahap.

Obat yang paling lazim digunakan sebagai obat pembentuk massa adalah metilselulosa (bagian 1.6.1). Obat ini dinyatakan dapat mengurangi asupan dengan membuat perasaan penuh atau kenyang pada pasien, namun hanya sedikit bukti yang dapat mendukung penggunaannya pada penanganan obesitas.

Monografi: 

ORLISTAT

Indikasi: 

terapi tambahan untuk makanan rendah kalori pada pasien kegemukan dengan Body Mass Index (BMI) > 30 kg/m2 atau pasien kelebihan berat badan (BMI > 25 kg/m2) dengan memiliki faktor risiko terkait. Pengobatan dengan orlistat hanya dimulai jika terapi dengan makanan saja telah memberikan pengurangan berat badan minimal 2,5 kg selama 4 minggu. Pengobatan dengan orlistat harus dihentikan setelah 12 minggu jika pasien tidak dapat mengurangi berat badannya sebesar minimal 5% dari saat awal terapi.

Peringatan: 

diperlukan monitoring yang ketat terhadap penggunaan obat antidiabetes, dapat mengganggu absorpsi vitamin larut lemak, seperti vitamin A, D, E, K, penggunaan bersamaan dengan multivitamin diberikan dengan selang waktu 2 jam setelah orlistat, atau saat waktu tidur.

Interaksi: 

lampiran 1 (orlistat), multivitamin: jika suplemen multivitamin dibutuhkan dapat diberikan minimal 2 jam setelah konsumsi orlistat atau saat malam hari, efek samping gangguan lambung menjadi meningkat jika orlistat diminum pada makanan yang kaya lemak.

Kontraindikasi: 

sindrom malabsorpsi kronis, kolestatis, hipersensitivitas, penggunaan bersamaan dengan siklosporin, kehamilan, menyusui (lampiran 5).

Efek Samping: 

sangat umum:urgensi untuk buang air besar (BAB), feses berminyak, flatus with discharge, rembesan berminyak dari rektum, sudden bowel iritation

umum: inkontinensia BAB, feses cair, nyeri abdomen, gerakan usus besar yang lebih sering, reaksi alergi berat dengan gejala kesulitan bernafas berat, berkeringat, ruam kulit, gatal, wajah bengkak, detak jantung meningkat, kolaps.

efek lain yang pernah terjadi: penurunan protrombin, peningkatan INR, reaksi hipersentivitas (pruritus, ruam kulit, ur tikaria, angioedema, bronkospasme, anafilaksis), erupsi bulosa, skin blistering.

 

Dosis: 

60 mg 3 kali sehari, diminum segera sebelum, atau di tengah makan, atau hingga 1 jam setelah makan (maksimal 180 mg/hari), teruskan terapi hingga 12 minggu hanya bila penurunan berat badan sejak awal terapi >5% (lihat pula catatan di atas). Jangka waktu pemakaian maksimum 2 tahun, anak: tidak direkomendasikan.

Catatan: Saat minum orlistat, pasien harus mengkonsumsi gizi seimbang berupa makanan rendah kalori yang mengandung 30% kalori yang berasal dari lemak. Jika tidak makan atau makanan tidak mengandung lemak, maka satu dosis orlistat dapat diabaikan.