Ketergantungan Opioid

Penanganan ketergantungan opioid meliputi terapi medis, sosial, dan psikologis. Juga diperlukan akses terhadap tim yang multidisipliner. Terapi dengan pengganti opioid atau naltrekson paling baik dimulai di bawah pengawasan dokter yang kompeten. Metadon, merupakan agonis opioid, dapat menjadi pengganti opioid seperti diamorfin. Bekerja dengan cara mencegah terjadinya gejala putus obat. Metadon sendiri bersifat adiktif dan hanya boleh diberikan pada pasien yang memilki ketergantungan secara fisik terhadap opioid. Obat diberikan dalam dosis tunggal bisanya sebagai larutan oral metadon 1 mg/mL. Dosis disesuaikan, tergantung pada derajat ketergantungan.

Buprenorfin adalah agonis opioid parsial. Karena sering disalahgunakan dan potensial menimbulkan ketergantungan, obat ini hanya boleh diberikan pada pasien yang memiliki ketergantungan secara fisik dengan opioid. Buprenorfin dapat digunakan sebagai terapi pengganti untuk pasien dengan ketergantungan derajat menengah. Pada pasien yang mengalami ketergantungan opioid dosis tinggi, pemberian buprernorfin dapat memperparah gejala putus obat karena kemampuan antagonis parsialnya. Pada pasien seperti ini, dosis harian opioid sebaiknya diturunkan bertahap dahulu sebelum terapi dengan buprenorfin dimulai.

Naltrekson, merupakan antagonis opioid, bekerja dengan cara menghambat aksi opioid dan menimbulkan gejala putus obat pada pasien yang tergantung opioid. Karena aksi euforia dari agonis opioid dapat dihambat oleh naltrekson, maka obat ini diberikan bagi para bekas pecandu sebagai terapi untuk mencegah kekambuhan.

Lofeksidin biasanya digunakan untuk mengurangi gejala pada individu yang penggunaan opioidnya terkendali dengan baik dan sedang menjalani penghentian opioid. Seperti klonidin, obat ini merupakan agonis alfa adrenergik dan bekerja secara sentral untuk menurunkan tonus simpatetik, namun efek penurunan pada tekanan darah lebih kecil.

Monografi: 

BUPRENORFIN

Indikasi: 

terapi pengganti untuk ketergantungan opioid, dalam kerangka terapi psikologi, sosial dan medis.

Peringatan: 

hentikan penggunaan jika terjadi nekrosis hati dan hepatitis dengan jaundice; dapat menyebabkan gejala putus obat jika diberikan kurang dari 4 jam setelah waktu penggunaan opioid yang terakhir; tidak direkomendasikan pada saat kehamilan.

Interaksi: 

alkohol dan obat depresan SSP dapat meningkatkan efek sedatif buprenorfin; kombinasi dengan benzodiazepin dapat meningkatkan efek menekan pernafasan yang berisiko pada kematian. MAOI meningkatkan efek opioid dari buprenorfin.

Kontraindikasi: 

hipersensitif pada buprenorfin atau komponen produk, anak usia di bawah 16 tahun, insufisiensi pernafasan berat, insufisiensi hati berat, delirium atau alkoholism akut, menyusui.

Efek Samping: 

konstipasi, sakit kepala, insomnia, astenia, mengantuk, mual dan muntah, pusing dan tidak sadarkan diri, berkeringat; depresi pernafasan, nekrosis hati, halusinasi.

Dosis: 

Awal, 0,8-4 mg sebagai dosis tunggal. Untuk pasien yang tidak mengalami gejala putus obat, satu dosis diberikan sublingual minimal 4 jam setelah penggunaan terakhir opioid atau pada saat pertama kali muncul gejala putus obat. Untuk pasien yang menerima metadon, sebelum memulai buprenorfin, dosis metadon sebaiknya dikurangi hingga maksimum 30 mg/hari. Buprenorfin dapat menyebabkan gejala putus obat pada pasien mengalami ketergantungan pada metadon. Dosis dapat ditingkatkan sesuai respon, maksimal 32 mg sebagai dosis tunggal per hari. Setelah dicapai hasil stabil, dosis dapat dikurangi secara bertahap dan kemudian dapat dihentikan.

NALTREKSON

Indikasi: 

terapi tambahan untuk mencegah kambuhan pada pasien ketergantungan opioid yang sedang mengalami detoksifikasi (pasien yang tetap bebas opioid dalam waktu 7-10 hari).

Peringatan: 

gangguan fungsi ginjal dan hati; uji fungsi hati sebelum dan sesudah terapi perlu dilakukan; uji ketergantungan opioid dengan nalokson; hindari penggunaan bersamaan dengan opioid namun penggunaan analgesik opioid dengan dosis yang ditingkatkan dapat diberikan untuk mengatasi nyeri (monitor intoksikasi opioid); kehamilan, menyusui.

Kontraindikasi: 

pasien yang masih mengalami ketergantungan pada opioid; hepatitis akut atau gagal hati.

Efek Samping: 

mual, muntah, nyeri abdomen, ansietas, rasa gugup, kesulitan tidur, sakit kepala, energi yang berkurang, nyeri otot dan sendi; kurang sering terjadi, hilang nafsu makan, diare, konstipasi, rasa haus yang meningkat, nyeri dada, peningkatan keringat dan lakrimasi, peningkatan energi, rasa ingin jatuh, iritabilitas, pusing, menggigil, ejakulasi yang tertunda, potensi yang menurun, ruam kulit; kadang-kadang terjadi, abnormalitas fungsi hati, trombositopenia idiopatik yang reversibel.

Dosis: 

Awal, 25 mg kemudian 50 mg; total dosis satu minggu dapat dibagi dan diberikan dalam 3 hari untuk memperbaiki kepatuhan (misal 100 mg pada hari Senin dan Rabu, dan 150 mg pada hari Jum'at). Anak tidak direkomendasikan.