13.1.1 Zat Pembawa

Baik zat pembawa (vehikulum) maupun zat aktif sama pentingnya untuk pengobatan kelainan kulit. Zat pembawa saja mungkin memiliki lebih dari sekedar efek plasebo. Zat pembawa mempengaruhi derajat hidrasi kulit, memiliki efek antiradang lemah, dan membantu penetrasi zat aktif.

Zat pembawa dapat berupa application, collodion, krim, gel, dusting powder, losion, salep, atau pasta:
Application biasa berupa larutan kental,emulsi, atau suspensi untuk dioleskan pada kulit (termasuk juga kulit kepala) maupun kuku.
Collodions dioleskan pada kulit dan dibiarkan mengering untuk membentuk permukaan film yang lentur di tempat pemberian.
Krim adalah emulsi minyak dan air yang secara umum diserap baik ke dalam kulit. Krim ini mengandung antimikroba sebagai pengawet kecuali bila zat aktif atau zat dasarnya memiliki cukup aktivitas bakterisidal atau fungisidal. Umumnya krim lebih diterima secara kosmetika daripada salep karena tidak berminyak, dan lebih mudah dioleskan.
Gel mengandung bahan aktif yang sesuai dengan bahan dasar hidrofilik atau hidrofobik. Umumnya gel mempunyai kadar air yang tinggi. Gel terutama cocok dipakai untuk wajah dan kulit kepala.
Losion memiliki efek menyejukkan dan mungkin lebih disukai daripada salep atau krim bila sediaan dimaksudkan untuk dioleskan pada daerah berambut. Losion kocok (seperti losion kalamin) berisi bubuk tak larut dan meninggalkan deposit bubuk yang melekat pada permukaan kulit.
Salep ialah sediaan berminyak yang biasanya tidak mengandung air dan tak larut dalam air, serta lebih oklusif daripada krim. Salep secara khusus lebih sesuai untuk luka kering kronis. Dasar salep yang paling sering digunakan berisi parafin lembut, atau kombinasi dari parafin lembut, parafin cair dan parafin keras. Dasar salep modern memiliki sifat hidrofilik maupun lipofilik. Salep dapat memiliki sifat oklusif pada permukaan kulit, menambah hidrasi dan juga dapat bercampur dengan air; obat-obat ini sering mempunyai efek antiinflamasi ringan. Salep larut air berisi makrogol yang dengan mudah larut dalam air serta dengan demikian mudah dibersihkan; salep larut air memiliki pemakaian yang terbatas tetapi berguna bila diinginkan pembersihan kulit segera.
Pasta ialah sediaan berisi bubuk halus padat dalam proporsi tinggi, seperti seng oksida dan kanji (starch) tersuspensi dalam salep. Pasta digunakan untuk luka yang terbatas seperti yang terdapat pada lichen simplex, eksim kronik, atau psoriasis. Pasta kurang oklusif dibandingkan salep dan dapat digunakan untuk kulit yang meradang, mengering, atau terdapat ekskoriasi.
Dusting powder atau pupur jarang digunakan. Dusting powder menurunkan gesekan antar permukaan kulit. Dusting powder tidak dapat digunakan untuk bagian yang lembab sebab dapat mengeras dan mengikis kulit. Talk merupakan lubrikan tetapi tidak dapat menyerap air sedang pati (starch) kurang melumasi tetapi menyerap air.
Pengencer (dilution)
Krim dan salep tidak boleh diencerkan tetapi bila diencerkan juga; lakukanlah dengan hati-hati khususnya untuk mencegah kontaminasi mikrobial. Harus digunakan pengencer yang tepat dan hindarkan pemanasan selama pencampuran; pengenceran berlebih mungkin mempengaruhi stabilitas beberapa krim. Krim yang diencerkan sebaiknya digunakan dalam dua minggu setelah dibuat.